BAB.I.
PEMBANGUNAN EKONOMI dan
PROSES PERUBAHAN STRUKTUR
A. Pendahuluan
Konsep dasar pembangunan nasional kerapkali diasumsikan sudah dimengerti dan diterima semua orang. Padahal kerapkali asumsi ini tidak tepat, karena orang sebenarnya tidak memperhatikan bahwa apa yang dimengerti dan diterima masing-masing sebenarnya berbeda satu dengan yang lain. Sering orang berdebat mengenai hal yang sebenarnya tidak perlu sekiranya semua bersedia kembali kepada pokok permasalahannya.
Karena itu tidak ada jeleknya kita kembali kepada konsep dasar. ”membangun” pada hakekatnya berarti melakukan kegiatan saat ini untuk meraih sasaran yang baru dapat dicapai dikemudian hari. Karena itu suatu bangsa yang melaksanakan pembangunan biasanya mempunyai sasaran untuk masa depan yang sebelumnya disepakati bersama, secara demokratis melalui wakil-wakil rakyat atau ditentukan oleh mereka yang berkuasa (pemerintah). Dalam sasaran ini dimasukkan hal-hal yang diinginkan dan diharapkan bersama dan bagaimana mencapainya, memperhatikan modal yang tersedia, artinya – modal dalam arti fisik, sumber daya manusia dan alam serta kelembagaan yang ada, yaitu; peluang yang ada maupun berbagai masalah dan kendala yang menjadi tantangan bangsa, baik yang ada di dalam negeri maupun di luar.
Di dalam jargon ekonomi tindakan tersebut merupakan penanaman modal atau investasi. Penanaman modal ini memerlukan sarana dan prasarana, termasuk sarana pembiayaan, tabungan dan pinjaman yang menyangkut pemerintah dan sektor swasta.
Jadi pembangunan ekonomi secara umum dapat diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang dapat menyebabkan perubahan-perubahan, terutama terjadi perubahan menurunnya tingkat pertumbuhan penduduk dan perubahan dari struktur ekonomi, baik peranannya terhadap pembentukan pendapatan nasional, maupun peranannya dalam penyediaan lapangan kerja (Kuznets, Chenery)
B. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah terjadinya pertambahan/perubahan pendapatan nasional (produksi nasional/GNP/GDP) dalam satu tahun tertentu, tanpa memperhatikan pertumbuhan penduduk dan aspek lainnya.
Pertumbuhan ekonomi berpokok pada proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Paham pertumbuhan digunakan dalam teori dinamika sebagaimana hal itu dikembangkan oleh para pemikir Neo-Klasik dan Neo-Keynes. Pembangunan ekonomi mengandung arti yang lebih luas dan mencakup perubahan pada susunan ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Pembangunan merupakan proses transformasi yang dalam perjalanan waktu ditandai oleh adanya perubahan struktural, yaitu perubahan pada landasan kegiatan ekonomi maupun pada kerangka susunan ekonomi masyarakat yang bersangkutan, seperti di Indonesia ini.
C. Perubahan Struktur
Dalam pembangunan akan terjadi perubahan struktur ekonomi di suatu negara. Yang dimaksud dengan struktur ekonomi adalah pembagian dua bidang ekonomi. Pertama, ada yang membaginya berdasarkan tiga sektor bidang yang berbeda, yaitu sektor pertanian, sektor industri, sektor jasa. Kedua, berdasarkan sektor yang utama yaitu sektor primer sampai dengan sektor pelengkap/tersier, yaitu sektor primer terdiri atas pertanian, kehutanan, perikanan, dan pertambangan; sektor sekunder yang terdiri atas industri-industri pengolahan, industri air dan listrik, industri bangunan; sektor tersier yang terdiri atas bidang pengangkutan dan perhubungan pemerintahan, perdagangan dan jasa-jasa perseorangan.
Proses pembangunan ekonomi biasanya diikuti dengan terjadinya perubahan-perubahan struktur dalam ekonomi.
Perubahan struktur akan terkait dengan penyajian PDB menurut lapangan usaha dalam berbagai versi. Hal yang tercakup dalam bagian ini adalah tentang proses transformasi ekonomi; yaitu bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur ekonomi sejalan dengan peningkatan pendapatan per-kapita.
Simon Kuznets menggunakan data time series berbagai negara maju untuk melihat perubahan struktur ekonomi, yaitu sektor pertanian, industri dan jasa serta peranannya terhadap penyerapan tenaga kerja. Perubahan berbagai sektor ekonomi (Struktur ekonomi) dalam pembentukan pendapatan nasional.
a). Peranan sektor pertanian akan menurun dalam pembentukan pendapatan nasional. Dari data 12 negara diantara yang diamati secara time series peranan sektor pertanian menurun paling sedikit 20%, yaitu pada permulaan pembangunan peranan pertanian 50% dan pada akhir pengamatan hanya 30% dari keseluruhan produksi nasional. Terkecuali dari 13 negara yang diamati, satu negara yang tidak mengalami penurunan peranan pertanian terhadap pembentukan pendapatan nasional adalah negara Australia.
b). Peranan sektor industri meningkat dalam pembentukan pendapatan nasional. Data atas 12 negara dari 13 negara yang menjadi pengamatan penelitian menunjukkan bahwa peranan sektor industri meningkat 20%, di mana pada permulaan pembangunan peranan sektor industri hanya 20% sampai dengan 30%, dan pada akhir dari pengamatan meningkat menjadi 40%. Sampai dengan 50% terhadap pembentukan pendapatan nasional. Sedangkan di Australia peranan sektor industri relatip tetap.
c). Peranan sektor jasa tidak mengalami perubahan yang berarti, hanya di negara Swedia dan Australia yang mengalami penurunan. Sedangkan di negara Kanada dan Jepang peranan sektor jasa mengalami peningkatan. Sementara di negara lainnya perubahan tidak begitu significant (nyata).
Perubahan struktur ekonomi negara Indonesia, di mana sektor pertanian dalam pembentukan pendapatan nasional relatip tetap, tetapi terdapat peningkatan dari 16,67% pada tahun 1996 menjadi 16,92% pada tahun 2000. di sektor industri dalam pembentukan pendapatan nasional mengalami peningkatan pada tahun 1996 sebesar 35,56% menjadi sebesar 40,12% pada tahun 2000. Sedangkan di sektor jasa dalam pembentukan pendapatan nasional mengalami proses penurunan, di mana pada tahun 1996 sebesar 47,77% menjadi sebesar 42,96% pada tahun 2000.
Studi-studi komparatif dan empiris yang dilakukan di bawah naungan World Bank (Bank Dunia) telah menyediakan banyak bahan yang sangat bermanfaat sebagai kerangka acuan dalam pola pendekatan terhadap persoalan ekonomi pembangunan. Pendekatan dan metodologi yang dilakukan Chenery beserta kelompok tim ahlinya adalah merupakan kelangsungan dan penerapan pemikiran-pemikiran yang sebelumnya dikembangkan secara terpisah dan tersendiri oleh Kaldor- Kuznets-Leontieff.
Gambar.1.1 Proses Perubahan Struktur Ekonomi
1. Proses Akumulasi
Akumulasi adalah; sebagai proses pembinaan pemanfaatan / penggunaan sumberdaya dan sumber dana untuk ---- peningkatan kemampuan kapasitas produksi dari perekonomian suatu Negara Dalam proses akumulasi dapat dilihat:
• Ada investasi fisik dan human investment
• Sehingga keunggulan comparative berubah
Ciri-cirinya:
• Apabila I/GDP meningkat - S/GDP juga akan meningkat (investasi fisik)
Education/GDP akan meningkat (human investment)
SER juga meningkat (SER atau School Enrollment Ratio; adalah rasio jumlah murid terhadap penduduk usia sekolah misalnya ratio jumlah murid SLP 13-15 tahun, terhadap penduduk umur 13-15 tahun)
Yang membiayai investasi fisik adalah pemerintah, maka Government Revenue/GDP meningkat Karena itu pula ----- Tax/GDP meningkat
• Kenaikan pajak lebih cepat dari GDPnya. ( pajak ada direct taxes yaitu pajak yang langsung dan indirect taxes, yaitu pajak tidak langsung yang dikenakan pada barang/jasa)
• Adanya comparative advantage pada produk-produk sektor pertanian bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sedangkan negara-negara yang sudah maju memiliki comparative advantage pada produk-produk sektor industri
Berkenaan dengan ini maka terdapat suatu indikasi apabila:
1. GNP meningkat ada proses akumulasi investasi meningkat, perbaikan sarana/prasarana perhubungan. Tingkat pendapatan naik, disertai kenaikan permintaan konsumen.
Sarana prasarana perbubungan meningkat, maka dapat melayani konsumen lebih jauh, lebih banyak, maka unit usaha semakin membesar (seperti yang diucapkan Adam Smith; terjadi devision of labour), sehingga makin banyak barang/jasa yang dijual antar negara, sehingga barang dan jasa yang diperdagangkan akan diproduksi meningkat.
2. Pola konsumsi dalam hal ini pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pokok akan meningkat, sehingga dapat dikenakan pajak.
2. Proses Alokasi
Alokasi adalah; terjadi akibat adanya interaksi antara dua proses yaitu, proses akumulasi yang pada gilirannya menyebabkan terjadinya perubahan dalam keuntungan comparative untuk memproduksi barang/jasa di satu fihak dan terjadinya proses perubahan dalam konsumsi masyarakat yang biasa menyertai terjadi dengan meningkatnya pendapatan per-kapita masyarakat di pihak lain.
Akibatnya terjadi perubahan struktur
a. Permintaan Domestik (C, G, I)
b. Produksi (komposisi PDB)
c. Perdagangan luar negeri (X, M)
Ciri-cirinya:
a). Pengeluaran konsumsi swasta terhadap GDP (Cp /GDP) lebih rendah (cenderung turun), hal ini erat kaitannya dengan tabungan yang lebih besar.
Pengeluaran konsumsi untuk makanan terhadap GDP (Cf /GDP) cenderung turun karena Tabungan privat (Sp /GDP) meningkat
Pengeluaran pemerintah terhadap GDP (G/GDP) dalam fase awal meningkat dan kemudian pada batas tertentu cenderung tetap saat dicapai 14-16%
b). Pada struktur produksi, yang menonjol adalah value added sektor pertanian terhadap GDP (GVAagr / GDP) berkurang dan value added sektor non-pertanian (GVA non-agr / GDP) meningkat terutama untuk manufaktur
c). Pada struktur perdagangan luar negeri terhadap GDP (X br-js bukan faktor /GDP) meningkat, tetap kemudian turun dan tetap.
juga X br primer / GDP turun diikuti X s.manufactur / GDP meningkat
Dan Ekspor (Xjasa / GDP) juga meningkat,
Serta Impor (M / GDP) akan meningkat, kemudian tetap, dan turun, lalu tetap
Dalam struktur permintaan domestik, penurunan persentase pendapatan untuk keperluan konsumsi bahan makanan – secara teoritis dikemukakan oleh Kuznets, Chenary, Susenas yang memberi suatu kesimpulan bahwa kondisi diatas -- di duga disebabkan oleh bekerjanya hukum Engels (Law of Engels for Elasticity of Income). Di mana inti apa yang dikemukakan Engels menyatakan bahwa; semakin tinggi pendapatan karena dilakukan pembangunan yang terus-menerus akan meningkatkan konsumsi terhadap barang-barang industri dan konsumsi terhadap barang pertanian relatip tetap, atau ”makin kaya seseorang pengeluaran urusan perut akan semakin kecil”. Hukum tersebut mengatakan bahwa elastisitas permintaan untuk bahan makanan terhadap perubahan pendapatan akan lebih kecil dari pada satu atau dapat dikatakan in-elastis. Dari bahan makanan tersebut yang dikatakan bahwa bahan makanan in-elastis, di mana makanan tersebut ada beberapa bahan makanan, dan ada yang siap. Artinya makin tinggi pendapatan seseorang, relatif cenderung orang mengkonsumsi makanan pada yang sudah siap dimakan akan cenderung meningkat.
Bukan bahan makanan terlihat akan cenderung semakin in-elastis (secara keseluruhan), tetapi tidak semuanya in-elastis (misalnya seperti ; ikan, daging barangkali masih elastis) Ini berkaitan dengan adanya perkembangan tehnologi yang biasanya memiliki 2 sifat:
Semakin efisien dengan menggunakan bahan mentah, sisanya akan dimakan lagi.
Mendorong hasil buatan menggantikan hasil alam (misalkan; tadinya menggunakan kayu bakar/arang sekarang menggunakan pemakaian listrik)
Pada penawaran, apabila dilihat dari kondisi faktor produksi dalam pembangunan ekonomi maka kenaikan pendapatan per-kapita akan mengakibatkan proses akumulasi. Di mana meningkatnya kemampuan tenaga kerja dan meningkatnya penguasaan tehnologi akan mengakibatkan berubahnya keuntungan komparatif berpindah dari sektor pertanian keluar sektor pertanian. Perubahan komparatif tersebut menunjukkan ada industri-industri tertentu yang memerlukan skala produksi lebih besar, sehingga pasar akan semakin luas, dan perlu didirikan pabrik-pabrik pada skala lebih besar.
Dalam kegiatan pergesaran terutama, berpindahnya beberapa kegiatan pertanian dan rumah tangga keluar dari sektor pertanian, dan rumah tangga keluar sektor pertanian. Misalnya kalau minyak goreng di buat dari santan nilai tambah (value added) ke sektor pertanian. Kalau dari kelapa sawit, sudah ke industri besar, di tambah nilai tambah (value added) ke sektor pertanian, digiling ke sektor manufakturing perdagangan. Dalam perkembangannya industri manufakturing, share-nya meningkat, ada perubahan keuntungan komparatif, maka terjadi pergeseran dari satu sektor ke sektor lain (sektor pertanian ke sektor industri. Dalam komposisi yang dihasilkan Indonesia pada kurun Orde Baru kemarin membesarnya share manufakturing adalah 32%, industri 50% dan industri pertanian dan rumah tangga adalah 18%).
3. Proses Demografi
Di negara-negara industri maju, penduduk bertambah dengan laju yang lamban dan tersendat-sendat. Sebaliknya di negara-negara berkembang jumlah penduduk merupakan masalah yang besar, baik itu secara absolut maupun secara nisbi mengenai tingkat pertambahannya tiap tahun. Tahun 2000 yang lalu ternyata tidak kurang dari 80% penduduk dunia bermukim di negara-negara sedang berkembang.
Tingkat kelahiran, tingkat kematian dan tingkat fertilitas adalah merupakan variabel-variabel pokok yang mempengaruhi pola perkembangan penduduk. Perbedaan demografis yang paling mencolok antara negara-negara dengan pendapatan tinggi dan negara-negara dengan pendapatan rendah terletak pada tingkat fertilitas. Penduduk yang bertambah dengan pesat menghadapi negara-negara berkembang dengan banyak dan berbagai rupa persoalan yang peka.
Proses pembangunan ekonomi biasanya tidak hanya ditandai dengan terjadinya perubahan atau pergeseran pada struktur permintaan dan penawaran barang dan jasa yang di produksi, namun juga ditandai oleh terjadinya perubahan struktur penduduk dan ketenagakerjaan. Istilah yang diberikan oleh Chenery dan Syrquin untuk perubahan tersebut adalah “proses demografi”.
Proses demografi itu terutama terjadi, sebagai akibat dari perubahan pada struktur permintaan, struktur produksi, dan perbaikan fasilitas kesehatan, gizi serta pendidikan yang timbul seiring dengan pertumbuhan pendapatan per-kapita. Terdapat tiga aspek yang perlu dilihat dari proses Demografi ini::
1. Ketenagakerjaan yang meliputi ;
a. Lapangan pekerjaan
b. Status pekerjaan
c. Jenis Pekerjaan
2. Pertumbuhan Penduduk (Crude Birth Ratio dan Crude Death Ratio)
Dalam demografi, ada istilah “transisi demografi”, di mana istilah tersebut mengacu pada proses pergeseran dari suatu keadaan tingkat kelahiran dan tingkat kematian tinggi ke keadaan tingkat kelahiran dan tingkat kematian rendah. Lebih jelasnya adalah suatu peralihan dari keadaan awal di mana dialami tingkat fertilitas tinggi dengan tingkat mortalitas tinggi pula (penduduk pada tahap ini lebih kurang stabil). Keadaan ini disusul dengan tahap di mana penduduk bertambah dengan laju yang pesat, karena tingkat kematian menurun, akan tetapi tidak disertai dengan menurunnya tingkat kelahiran. Akhirnya pada tahap yang lebih lanjut perkembangan menuju pada suatu “keseimbangan” perihal masalah penduduk. Pada tahap akhir ini tingkat fertilitas sudah sangat menurun sehingga memadai tingkat kematian yang rendah.
Dengan semakin meningkatnya pendapatan per-kapita, perubahan pada aspek sosial-ekonomi dan dengan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat, tingkat kelahiran juga akan turun dengan cepat. Sehingga tingkat pertumbuhan penduduk menurun dan dengan sendirinya jumlah penduduk yang menjadi tanggungan penduduk usia kerja akan menurun.
3. Tempat Tinggal Penduduk.
Gerak arus penduduk dari masyarakat desa yang secara massal menuju ke kawasan kota-kota adalah merupakan fenomena umum di semua negara berkembang. Banyak di kalangan ahli ekonomi pembangunan yang berpendapat bahwa pokok masalah yang dihadapi negara-negara berkembang di masa yang akan datang adalah berkisar pada migrasi penduduk secara massal dari desa ke kota, dan proses ini terus akan berlanjut.
Ciri-cirinya: a). Lapangan Pekerjaan
Nagr / N turun dan Nnon-agr / N sebaliknya meningkat
Nagr / N > GVAagr / GDP dan selebihnya
GDP / N > GVAagr / Nagr
GDPagr / N < GDPnon-agr / N
b). Status Pekerjaan
N w+t / N meningkat di mana w+t / GNP juga meningkat
(Tidak terjadi di Indonesia)
c). Jenis Pekerjaan
Nprof+Manajer / N cenderung meningkat
4. Proses Distribusi
Setiap negara, baik negara maju maupun negara berkembang umumnya sangat memperhatikan masalah distribusi pendapatan yang terjadi di negaranya. Distribusi pendapatan dikaji dan diukur secara kuantitatif dengan dua konsep yaitu: (1) tingkat kemiskinan absolute (absolute poverty) yang menunjuk pada jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan dan (2) ketimpangan relative (relative inequality) yang bersangkut paut dengan ketimpangan dalam pembagian pendapatan masyarakat antara golongan-golongan yang berpendapatan rendah, berpendapatan menengah dan berpendapatan tinggi.
Beberapa ekonom berpendapat bahwa perbedaan pendapat timbul karena adanya perbedaan dalam kepemilikan sumberdaya dan faktor produksi, terutama kepemilikan barang modal (capital stock)
Perbedaan pendapat karena perbedaan kepemilikan awal faktor produksi menurut teori Neo-Klasik akan dapat dihilangkan atau dikurangi melalui suatu proses penyesuaian otomatis. Dengan proses tersebut, hasil pembangunan akan menetes kebawah (Trickle down) dan menyebar sehingga menimbulkan keseimbangan baru. Apabila setelah proses tersebut masih ada perbedaan pendapatan cukup timpang, maka dapat dilakukan pendekatan Keynesian yaitu melalui sistem perpajakan dan subsidi yang mana dapat dipergunakan untuk alat redistribusi pendapatan dan mengurangi kemiskinan
Pendapat lain mengatakan adanya ketidak merataan pendapatan sebagai akibat dari ketidak sempurnaan pasar, karena gangguan yang mengakibatkan persaingan dalam pasar tidak dapat bekerja secara sempurna.
Di bidang ekonomi pembangunan masalah distribusi pendapatan menyangkut pola pembagian pendapatan nasional diantara golongan-golongan masyarakat. Sejak beberapa dasawarsa berselang, masalah ini semakin menonjol sebagai salah satu ciri pokok dalam proses pembangunan. Dalam konteks ini masalah distribusi pendapatan menyangkut kemiskinan dalam arti kemiskinan absolute maupun dalam arti ketimpangan relative. Distribusi pendapatan dan kemiskinan hendaknya dilihat dalam kerangka acuan suatu analisis, bersamaan dan berkaitan dengan proses akumulasi dan alokasi. Distribusi pendapatan harus dilihat dalam saling keterkaitan serta dalam kerangka acuan mencakup dinamika dalam proses transformasi secara menyeluruh.
Oleh Bank Dunia melalui karya-karya tim ahlinya sejak pertengahan dasawarsa tujuh-puluhan telah dirintis beberapa pedoman yang berfaedah sebagai tolok ukur kuantitatif untuk menelaah persoalan distribusi pendapatan dalam kaitannya dengan kesenjangan antara taraf hidup berbagai golongan masyarakat.
Dalam hal pembagian pendapatan nasional diantara golongan masyarakat, kriteria Bank Dunia (World Bank) membedakan tiga (3) golongan masyarakat yaitu:
• apabila 40% dari jumlah penduduk berpendapatan menerima kurang dari 12% dari pendapatan nasional, dalam keadaan demikian terdapat ketimpangan yang mencolok (gross inequality) pada pembagian pendapatan masyarakat.
• Apabila golongan penduduk yang berpendapatan rendah itu menerima antara 12% sampai dengan 17% dari pendapatan nasional, maka ketimpangan pada pembagian pendapatan masyarakat bersifat sedang (moderate inequality).
• Sedangkan apabila penerimaannya lebih besar dari 17% dari pendapatan nasional, maka ketimpangannya bersifat relative kecil (low inequality).
Cara lain untuk mengukur derajat ketimpangan pada pembagian pendapatan nasional adalah dengan penghitungan Gini Ratio ataupun Indeks Gini. Oleh sebab itu berkenaan dengan ini, maka penduduk digolongkan dalam 10 kelompok setelah diurutkan menurut tingkat pendapatannya., yaitu antara lain:
• Distribusi pendapatan dianggap merata apabila 10% penduduk termiskin menerima 10% dari pendapatan nasional.
• 40% penduduk termiskin menerima 40% dari pendapatan nasional, dan seterusnya.
• Sebaliknya distribusi pendapatan menjadi timpang, apabila misalnya 99% dari pendapatan nasional, diterima oleh hanya 1 persen dari penduduk.
• Nilai Indeks Gini bergerak antara 0 sampai 1
• Semakin kecil Indeks Gini-nya akan menggambarkan bahwa ketimpangannya juga semakin kecil.
• kriteria Indeks GINI tersebut lebih jauh dapat diklasifikasikan sebagai berikut; apabila X < 0,4 dikategorikan merata
0,4 < x < 0,5 dikategorikan moderat
Dan > 0,5 diindikasikan tidak merata
Ide dasar perhitungan koefisien Gini sebenarnya berasal dari upaya pengukuran luas suatu kurva yang menggambarkan distribusi pendapatan untuk seluruh kelompok pendapatan. Kurva yang kemudian dinamakan Kurva Lorenz.
Gambar.1.2. Koefisien Gini, Kurva Lorenz
Dalam gambar diatas, dapat dilihat ada area yang diberi titik A yaitu dari sepanjang garis kemerataan sampai ke garis lengkung. Dan area B adalah diluar antara garis kemerataan dan garis lengkung tersebut. Dengan demikian akan nampak bahwa perumusannya adalah:
Luas daerah abce = luas segi empat abed + luas segitiga cde
= (ab) (ae) + ½ (cd) (de)
= (ab) (ac) + ½ (ab) (be-ac)
= ½ (ab) (ac+be)
= ½ (Pi-Pi-1) (Yi-1 + Yi)
Luas daerah B yaitu area komulatif daerah B dibawah kurva adalah:
½ (Pi – Pi-1) (Yi-1 + Yi)
Apabila luas OPXY = 1 maka luas segitiga OPX adalah ½.
Luas daerah A adalah ½ - luas daerah B – ½ - ½ (Pi – Pi-1) (Yi-1 + Yi)
Koefisien Gini atau Gini ratio
atau
Koefisien Gini juga ada yang menterjemahkan sebagai hasil perbandingan daerah/luas antara kurva Lorenz (ABCDEF) dan aris merata sempurna (garis AF) dengan luas daerah segitiga AGF
RG =
Sedangkan rumus Statistik koefisien Gini Ratio
RG = 1 - ∑ fi (Y*i + Y*i-1)
RG = Koefisien Gini Ratio
I = Jumlah Kelas/golongan/kelompok pendapatan
Y*i = Jumlah relatif kumlatif pendapatan pada kelas/golongan ke i
Y*i-1 = Y*i kelas/golongan sebelum ke i
Fi = Jumlah frekuensi relatif pendapatan yang digolongkan.
• Kurva Lorenz dari Conrad Lorenz diperoleh dengan menghubungkan variabel frekuensi penerimaan pendapatan dan persen/relatif yang dikumulatifkan sebagai sumbu vertikal, dengan variabel pendapatan yang sudah dikelompokkan/digolongkan dalam percentiles sebagai sumbu horizontal, dari tabel distribusi frekuensi relatif pendapatan.
Tabel.1.1 Data Distribusi Frekuensi Relatip Pendapatan Responden Petani
Persentase dari Petani Penerima Pendapatan yang Digolongkan dari yang Terendah s/d tertinggi
(Fi) Jumlah relatif/Persentase dari Pendapatan Terhadap Keseluruhan Pendapatan
(Yi) Frekuensi Relatif Kumulatif dari Pendapatan
(Y*i)
Golongan 20% I (0,2)
Golongan 20% II (0,2)
Golongan 20% III (0,2)
Golongan 20% IV (0,2)
Golongan 20% V (0,2) 3 %
7 %
11 %
19 %
60 % 3 %
10 %
21 %
40 %
100,0%
Jumlah 100,0%
Sumber: Simulasi yang diolah penulis dari buku Ekonomi Pembangunan A.Mahyudi
Gambar 1.3. Analisis Hasil dengan Kurva Lorenz
Berdasarkan data BPS yang bersumber dari SUSENAS (Survei Sensus Nasional) dan dengan mengunakan tolok ukur klasifikasi Bank Dunia, diperoleh gambaran perkembangan di Indonesia secara menyeluruh sebagai berikut:
o Bahwa bagian dari pendapatan nasional yang diterima oleh golongan berpendapatan rendah adalah 19,6% di tahun 1980 dan 20,9% di tahun 1987. Selama dasawarsa delapan-puluhan ternyata ketimpangan pembagian pendapatan masyarakat sudah termasuk kategori “relatif kecil” dan tentunya masih menunjukkan kondisi perbaikan. Dan dari data yang diolah oleh BPS pada tahun tersebut dapat dikemukakan bahwa Indeks Gini tahun 1980 terletak pada 0,34 dan pada tahun 1987 menjadi 0,32. Dengan demikian data-data terkait dengan Indeks Gini diatas memberikan suatu kesimpulan sementara bahwa terdapat kecenderungan membaiknya ketimpangan pada pembagian pendapatan nasional diantara penduduk.
o Secara umum dapat diamati bahwa pola pembagian pendapatan di negara-negara sedang berkembang menunjukkan kesenjangan yang lebih besar antara golongan yang berpendapatan rendah dan golongan yang berpendapatan tinggi, dibandingkan dengan kondisi keadaan negara-negara maju..
Pembuktian empiris selama beberapa dasawarsa semenjak Perang Dunia II memberikan suatu gambaran bahwa pada awal pembangunan, ketimpangan pembagian pendapatan nasional di antara golongan masyarakat bahkan menjadi lebih buruk, artinya kesenjangan menjadi lebih besar.
Secara pokok dan skematis dapat dicatat bahwa pola pembagian Negara sedang berkembang seperti Indonesia ditentukan oleh: (1) pertumbuhan yang berbeda-beda di berbagai sektor ekonomi beserta tehnologi yang dugunakan oleh masing-masing sektor (2) angkatan kerja yang berambah jumlahnya, tetapi mutu kualitasnya bebeda diantara sektor-sektor lapangan kerjanya, (3) kepemilikan tanah ataupun penguasaan kekayaan yang mempengaruhi produktivitas pendapatan rakyat, (4) sikap dan perilaku golongan-golongan masyarakat terhadap reformasi yang membuka peluang untuk mewujudkan pembagian pendapatan secara lebih merata, seperti land-reform, (5) akses terhadap kemudahan-kemudahan jasa public seperti kesehatan, pendidikan, pelatihan, transportasi, tenaga listrik serta kemunikasi dan lainnya.
Pada akhirnya setiap negara yang melaksanakan pembangunan akan menuju pada peningkatan kemakmuran masyarakat luas atau pemerataan kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi lebih berarti apabila diikuti dengan pemerataan atas hasil-hasil pembangunan. Berbagai kebijakan ekonomi untuk menumbuhkan produksi akan lebih berarti apabila dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Oleh karena itu orientasi pemerataan seharusnya menjadi muara dari seluruh kegiatan perekonomian suatu bangsa.
D. Pendapatan per-Kapita
Pendapatan per-kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per-kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan per-kapita juga merefleksikan PDB per-kapita.
Pendapatan per-kapita sering digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan per-kapitanya, semakin makmur negara tersebut.
1). Hubungan Pendapatan Nasional, Penduduk dan Pendapatan Per-Kapita
Pendapatan nasional pada dasarnya merupakan kumpulan pendapatan masyarakat suatu negara. Tinggi rendahnya pendapatan nasional akan mempengaruhi tinggi rendahnya pendapatan per-kapita negara yang bersangkutan. Akan tetapi, banyak sedikitnya jumlah penduduk pun akan mempengaruhi jumlah pendapatan per-kapita suatu negara.
Untuk lebih memperjelas, perhatikan tabel di bawah ini!
Dari tabel 1.2 di bawah, nampak jelas bahwa India yang memiliki PDB per tahun US $ 427.407.000.000,00 hanya mendapatkan pendapatan per kapita US $ 440,00. Lain halnya dengan Singapura yang mendapatkan PDB per tahun US $ 95.453.000.000,00 ternyata pendapatan per kapitanya US $ 30.170,00. Mengapa demikian?
Ternyata tingginya pendapatan nasional suatu negara, tidak menjamin pendapatan per kapitanya juga tinggi. Hal ini terjadi karena faktor jumlah penduduk juga sangat menentukan tinggi rendahnya pendapatan per kapita.
2). Perbandingan Pendapatan Per-Kapita Indonesia dengan Negara Lain
Pendapatan per-kapita Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara ternyata masih termasuk rendah. Untuk lebih jelasnya, lihat tabel 1.3.
Sementara itu, pertumbuhan PNB Riil per-kapita di dunia dapat dilihat di tabel 1.4.. Berdasarkan tabel 1.4, secara umum pada tahun 1998 pertumbuhan PNB Riil Per Kapita di dunia mengalami penurunan sebagaimana halnya Indonesia kecuali negara-negara tertentu seperti Amerika Serikat, Jerman, Kanada dan Perancis.
Hal ini terjadi, karena di dunia yang arus globalisasinya semakin gencar, kejadian atau masalah yang terjadi di suatu negara atau kawasan tertentu akan berdampak pula pada negara lainnya.
Ternyata tingginya pendapatan nasional suatu negara, tidak menjamin pendapatan per kapitanya juga tinggi. Hal ini terjadi karena faktor jumlah penduduk juga sangat menentukan tinggi rendahnya pendapatan per-kapita.
E. Kondisi Empiris Perubahan Struktur Ekonomi
Teori perubahan struktural menitik-beratkan pembahasan pada mekanisme transformasi ekonomi yang dialami oleh Least Development Countries, yang semula lebih bersifat subsisten dan menitik beratkan pada sektor pertanian menuju ke struktur perekonomian yang lebih modern, yang didominasi oleh sektor-sektor non-primer khususnya industri dan jasa. Ada dua teori utama yang umum digunakan dalam penganalisisan perubahan struktur ekonomi, yaitu dari Arthur Lewis (teori migrasi) dan Hollis Chenery (teori transformasi struktural)
Teori Arthur Lewis, pada dasarnya membahas proses pembangunan ekonomi yang terjadi di daerah pedesaan (rural) dan daerah perkotaan (urban). Kerangka pemikiran teori Chenery pada dasarnya sama seperti di model Lewis. Theory Chenery, dikenal dengan theory Pattern of Development, memfokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di LDCs, yang mengalami transformasi dari pertanian tradisionil (subsisten) ke sektor industri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi. Hasil penelitian dari Chenery dan Syrquin (1975) mengidentifikasikan bahwa sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat per-kapita yang membawa perubahan dalam pola permintaan konsumen dari penekanan pada makanan dan barang-barang kebutuhan pokok lain ke berbagai macam barang-barang manufaktur dan jasa, akumulasi kapital fisik dan manusia (SDM)., perkembangan kota-kota dan industri di urban bersamaan dengan proses migrasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan, dan penurunan laju pertumbuhan penduduk yang semakin kecil, struktur perekonomian suatu negara bergeser dari yang semula didominasi oleh sektor pertanian atau/dan sektor pertambangan menuju ke sektor-sektor non-primer khususnya industri.
Perubahan struktur ekonomi bersamaan dengan pertumbuhan PDB yang merupakan total pertumbuhan nilai tambah (value added) dari semua sektor ekonomi dapat dijelaskan sebagaimana di bawah ini:.
Katakan pada suatu ekonomi hanya terdapat 2 sektor yaitu, industri dan pertanian dengan nilai tambah masing-masing nilai tambah (i) dan nilai tambah (p) yang membentuk PDB, maka PDB = VAi + VAp atau juga dapat ditulis 1 = [a(t)I + a(t)p] PDB. A(t)I dan a(t)p merupakan pangsa PDB masing-masing, dari industri dan pertanian; t menunjukkan periode. Pada tahap awal pembangunan (t=0) sebelum industrialisasi dimulai atau sektor industri belum berkembang;a(0)i a(1)p dan a(1)p < a(0)p.
Menurut Chenery (1992), proses transformasi struktural akan mencapai tarafnya yang paling cepat apabila pergeseran pola permintaan domestik ke arah output industri manufaktur diperkuat oleh perubahan yang serupa dalam komposisi perdagangan luar negeri atau ekspor sebagaimana yang terjadi pada negara-negara NICs (Newly Industrialized Countries) seperti Korea, Taiwan, Singapura dan Hongkong.
Dalam modal transformasi struktural, relasi antara pertumbuhan output di sektor industri manufaktur, pola perubahan permintaan domestik ke arah output industri dan pola perubahan perdagangan luar negeri dapat digambarkan dalam persamaan Xi = Di + (Ei-Mi) + jXij di mana Xi adalah jumlah output bruto industri manufaktur, Di adalah permintaan domestik terhadap produk akhir (konsumsi plus investasi) industri manufaktur, (Ei-Mi) volume perdagangan neto (ekspor minus impor produk kompetitif), jXij = aijXj = penggunaan produk industri manufaktur sebagai barang antara oleh sektor j, aij adalah koefisien input-output, yang diasumsikan bervariasi sehubungan dengan variasi tingkat pendapatan per-kapita.
Berdasarkan model ini, kenaikan produksi sektor industri manufaktur dinyatakan sama besarnya dengan jumlah dari empat faktor yaitu:
Kenaikan permintaan domestik yang memuat permintaan langsung untuk produk industri manufaktur plus efek tidak langsung dari kenaikan permintaan domestik untuk produk sektor-sektor lainnya terhadap sektor industri manufaktur.
Perluasan ekspor (pertumbuhan dan diversifikasi), atau efek total dari kenaikan jumlah ekspor terhadap produk industri manufaktur.
Substitusi impor, atau efek total dari kenaikan proporsi permintaan di tiap sektor yang dipenuhi lewat produksi domestik terhadap output industri manufaktur.
Perubahan tehnologi, atau efek total dari perubahan koefisien input-output (aij) di dalam perekonomian akibat kenaikan upah dan tingkat pendapatan terhadap sektor industri manufaktur.
Berdasarkan hasil studi dari Chenery dan Syrquin, perubahan pangsa periode jangka panjang akan menunjukkan pola seperti penggambaran dibawah ini. Kontribusi output dari sektor pertanian terhadap pembentukan PDB mengecil, sedangkan pangsa PDB dari sektor industri manufaktur dan jasa mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan PDB atau pendapatan nasional per-kapita.
Indikator penting lainnya yang dapat dilihat adalah pengukuran pola perubahan struktur ekonomi dalam distribusi kesempatan kerja menurut sektor. Dengan pola yang sama pada tingkat pendapatan per-kapita yang rendah (tahap awal pembangunan ekonomi) sektor-sektor primer merupakan kontributor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Pada tingkat pendapatan per-kapita yang tinggi (tahap akhir) sektor-sektor sekunder terutama industri menjadi sangat penting dalam penyediaan kesempatan kerja.
Gambar. I.4
Perubahan Struktur Ekonomi dalam Proses Pembangunan Ekonomi
“rendah” “tinggi”
Di Indonesia proses perubahan struktur dapat dikatakan cukup pesat, sejak tahun 1983 hingga dekade tahun 1990-an peran sektor-sektor primer cenderung menurun sedangkan sektor sekunder seperti industri manufaktur, listrik, gas, dan air, serta konstruksi, dan sektor-sektor tersier, yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran, transport dan komunikasi, bank dan keuangan, dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya meningkat. Namun demikian perubahan struktur ekonomi yang dialami Indonesia selama pemerintahan Orde Baru yang memperlemah posisi relatif dari pertanian dan pertambangan di dalam perekonomian nasional disebabkan oleh laju pertumbuhan output rata-rata per tahun kedua sektor tersebut relatif lebih lambat dibandingkan laju pertumbuhan output rata-rata per tahun di sektor-sektor sekunder, terutama industri manufaktur, dan tersier.
LATIHAN SOAL
1. Teori dan konsep pembangunan ekonomi yang berkembang sarat dengan perbedaan pandangan serta dilandasi oleh nilai-nilai tentang suatu perencanaan pembangunan ekonomi yang baik tentunya akan memerlukan dukungan sistem informasi yang baik dan dibutuhkan pengetahuan tentang indikator-indikator ekonomi serta data yang dibutuhkan. Perubahan struktur adalah upaya proses transformasi ekonomi yang akan mempengaruhi proses pembangunan ekonomi masyarakat, Jelaskan proses-proses pembangun ekonomi tersebut..
2. Jelaskan apa yang saudara ketahui tentang School Enrollment Ratio
3. kasus: Data PDB atas dasar harga konstan dapat diketahui :
Tahun Uraian
PDB (Milyar Rp.)
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997 115.447,1
113.146,8
130.908
139.707,1
354.640,8
383.792,3
414.418,9
434.095,5
Hitunglah: Pertumbuhan PDB atas dasar data diatas per tahunnya !
Pertumbuhan PDB pada tahun 1991 – 1994.
Pertumbuhan PDB tahun 1993 – 1996
Pertumbuhan PDB tahun 1991 – 1997
4. kasus: Data PDB atas dasar harga konstan
Tahun Uraian PDB
(Milyar Rp.)
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
139.707,1
354.640,8
383.792,3
414.418,9
434.095,5
376.374,9
379.352,5
398.016,9
411.753,5
426.942,9
444.453,5
Hitunglah: Pertumbuhan PDB atas dasar data diatas per tahunnya !
Pertumbuhan rata-rata PDB pada tahun 1993 – 1998.
Pertumbuhan rata-rata PDB tahun 1993 – 2003
DAFTAR ISTILAH
Konsep
Neo-Klasik
Neo-Keynes
Proses transformasi
Perubahan struktural
Perubahan struktur
Sektor Primer
Sektor Sekunder
Sektor tersier
PDB - Produk Domestik Bruto
Pendapatan perkapita - pendapatan per kepala
Time series - runtut waktu
Significant (nyata).
World Bank (Bank Dunia)
Proses Akumulasi
Investasi fisik
Human investment
Keunggulan comparative - comparative advantage
SER (School Enrollment Ratio) - rasio jumlah murid terhadap penduduk usia sekolah
Government Revenue
GDP - Gross Domestic Product
Tax - Pajak
Value added - Nilai tambah
Devision of labour
Proses Alokasi
Permintaan Domestik
Tabungan privat
Hukum Engels (Law of Engels for Elasticity of Income)
Proses demografi
Crude Birth Ratio - Rasio tingkat kelahiran
Crude Death Ratio – Rasio tingkat kematian
Transisi demografi
Proses distribusi
Kemiskinan absolute - absolute poverty
Ketimpangan relative - relative inequality
Capital stock
Trickle down
Gross inequality
Moderate inequality
Low inequality
Indeks Gini
Least Development Countries (LDCs) – Negara Sedang Berkembang